Wisata Religi Masjid kuno Rembitan terletak di Desa Rambitan, kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Dari Bandar Internasional Lombok (BIL) berjerak sekitar 10 kilometer. Wisata religi Masjid kuno Rembitan ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata para tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Lombok Tengah.

Posisinya sederetan dengan desa wisata Sade dan pantai Kuta Lombok. Masjid Rambitan berdiri di kaki perbukitan, tidak jauh dari jalur utama Bandara – Mandalika.

Rumah-rumah penduduk berdiri di bagian lebih tinggi dan di bawah kaki bukit mengelilingi masjid. Ukuran masjid Rambitan juga tidak terlalu besar, kira-kira seukuran dengan surau pada umumnya, hanya 7,80 M x 7,60 M.

Masjid Kuno Rambitan, sumber foto: WartaLombok – Pikiran Rakyat

Masjid kuno Rembitan, memilik banyak bangunan inti tanpa beranda. Di luar bangunan terdapat sebuah sumur yang disebut kolam berukuran 2,50 M dengan garis tengah bagian atas 5 M dan 3 M pada bagian bawah.

Seluruh unsur bangunan didominasi dengan bahan yang terbuat dari ilalang yang diikat memakai tali ijuk, sejenis akar gantung yang dapat bertahan sangat lama. Di bagian dalam masjid terdapat empat tiang utama penyangga bangunan dengan kurang lebih 28 sampai 30 tiang kecil yang menopang dinding masjid yang terbuat dari anyaman pagar bambu.

Bentuk dasar masjid-masjid di Lombok sebagian besar sama. Seperti masjid Rambitan Lombok Tengah, masjid Gunung Pujut Lombok Tengah, masjid Songak Lombok Timur dan Masjid Bayan Beleq Lombok Utara, di bawah kaki Gunung Rinjani. Semua masjid ini berbentuk hampir sama, dengan bahan bangunan penyusun masjidnya juga sama, termasuk masjid Rambitan ini.

Dalam kepercayaan masyarakat Rambitan sendiri, masjid mereka tidak bisa dilepaskan dari sosok historis dalam sejarah penyebaran agama Islam tradisonal di Lombok, yakni Wali Nyatok yang dimakamkan tidak jauh dari letak masjid Rambitan.

Ulasan mengenai Destinasi Wisata Makam Nyatok, bisa dibaca di sini.

Makam Wali Nyatok tercatat salah satu kuburan yang paling ramai dikunjungi umat Islam di Lombok. Dibuka sekali dalam sepekan, pada hari Rabu, sesuai dengan wasiatnya kepada para pengikutnya.

Nyatok kadang diartikan “nyata” tetapi bisa juga berarti “satu” atau “nyatu” atau wahdat, mengingatkan pada gelar yang disandang oleh Sunan Bonang, salah satu Wali Songo, yang dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Mendiang TGH Najmudin Makmun, ulama Lombok kenamaan, menyebutkan kedatangan dua pemuda dari Jawa pada abad 15 Masehi ke Lombok dalam rangka menyebarkan Islam, yakni Raden Dateng dan Raden Farnas. Keduanya diasuh oleh suami-istri bernama amak dan inak Buthuh. Raden Dateng kemudian dikenal sebagai Wali Nyatok.

Para sejarawan Sasak mengkaitkan kedatangan dua wali dari Jawa tersebut dengan sosok Sunan Giri Prapen, Gresik, yang disebut sebagi tokoh tunggal penting penyebar Islam di pulau Lombok dan Indonesia Timur lainnya.

Masyarakat Rambitan meyakini masjid mereka dulunya adalah masjid milik Wali Nyatok untuk beribadah, olah ruhani (khalwat), dan tempat mendaras ajaran Islam. Oleh karenanya, sampai hari ini masjid Rambitan dipakai oleh masyarkat sekitar tetap digunakan melaksanakan ibadah salat lima waktu untuk merawat kesinambungan posisi, fungsi dan maknanya dengan masa lalu. (*16)