Festival Sukarara “Begawe Jelo Nyesek”, Merawat Tradisi Tenun yang Menjadi Identitas Lombok Tengah

Artikel lainnya

Pelajari dan ketahui lebih banyak, tempat-tempat luar biasa di Lombok Tengah sebagai referensi Anda ketika berkunjung ke tempat ini. 

Wakil Bupati Lombok Tengah Hadiri Festival Sukarara "Begawe Jelo Nyesek" di Desa Sukarara. Foto: Humas Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Jonggat, 7 Juli 2026 – Suara alat tenun bukan mesin (ATBM) yang saling bersahutan menjadi penanda dimulainya Festival Sukarara “Begawe Jelo Nyesek”, sebuah perayaan budaya yang digelar di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi merupakan wujud penghormatan terhadap tradisi menenun yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas masyarakat Sukarara.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. H. M. Nursiah, S.Sos., M.Si., bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Camat Jonggat Hj. Lale Anys Fajriani, AP., M.Si., unsur Forkopimcam, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pelaku seni dan budaya, para pengrajin tenun, serta seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Jonggat.

Mengusung tema “Begawe Jelo Nyesek”, festival ini mengangkat aktivitas nyesek atau menenun sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Sukarara. Tradisi menenun telah menjadi warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan masih terus dipertahankan hingga saat ini. Di Sukarara, menenun bukan hanya sebuah keterampilan, melainkan simbol ketekunan, kesabaran, kreativitas, sekaligus kebanggaan perempuan Sasak dalam menjaga identitas budayanya.

Tenun Sukarara dikenal luas sebagai salah satu kain tradisional terbaik di Pulau Lombok. Proses pembuatannya masih dilakukan secara manual menggunakan alat tenun tradisional yang membutuhkan ketelitian tinggi. Setiap lembar kain dapat dikerjakan selama beberapa hari hingga berbulan-bulan, bergantung pada tingkat kerumitan motif yang dibuat. Motif-motif khas seperti Subahnale, Keker, Wayang, Ragi Genep, dan berbagai corak geometris lainnya mengandung filosofi tentang kehidupan, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai sosial masyarakat Sasak.

Keunikan lain dari tradisi ini adalah proses nyesek yang masih mempertahankan teknik-teknik tradisional. Mulai dari pemilihan benang, penyusunan pola, pewarnaan, hingga proses menenun dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian. Setiap hentakan alat tenun menghasilkan irama yang khas, menciptakan harmoni antara keterampilan tangan dan nilai budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Festival “Begawe Jelo Nyesek” menghadirkan berbagai aktivitas budaya yang memperlihatkan secara langsung proses pembuatan kain tenun kepada para pengunjung. Masyarakat dapat menyaksikan para penenun bekerja di depan alat tenun tradisional, mengikuti demonstrasi pembuatan motif, hingga melihat pameran beragam hasil tenun khas Sukarara. Pengunjung juga diajak mengenal makna filosofis yang tersimpan di balik setiap motif, sehingga tidak hanya menikmati keindahan kain, tetapi juga memahami cerita dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Lombok Tengah menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sukarara, para tokoh adat, kelompok pengrajin, dan seluruh masyarakat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi menenun. Menurutnya, kekayaan budaya seperti Tenun Sukarara merupakan aset daerah yang memiliki nilai sejarah, sosial, sekaligus ekonomi yang sangat besar.

Beliau menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi, tetapi harus terus dihidupkan melalui kegiatan nyata seperti festival budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, generasi muda dapat mengenal, mempelajari, sekaligus merasa bangga terhadap warisan budaya daerahnya.

Selain menjadi sarana pelestarian budaya, Festival Sukarara juga memberikan ruang bagi para pelaku UMKM dan pengrajin lokal untuk mempromosikan hasil karya mereka. Berbagai produk tenun, kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional dipamerkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Kehadiran wisatawan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperluas pasar bagi produk-produk lokal Sukarara.

Sementara itu, Camat Jonggat Hj. Lale Anys Fajriani, AP., M.Si., menyampaikan bahwa Pemerintah Kecamatan Jonggat akan terus mendukung berbagai kegiatan yang berorientasi pada pelestarian budaya. Menurutnya, tradisi seperti nyesek bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga modal penting dalam memperkuat karakter masyarakat serta mendukung pembangunan sektor pariwisata yang berkelanjutan.

Sepanjang pelaksanaan festival, suasana berlangsung meriah dengan penampilan seni musik tradisional, tari-tarian khas Sasak, pameran kerajinan, hingga atraksi budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Jonggat. Antusiasme warga dan wisatawan mencerminkan tingginya kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.

Melalui Festival Sukarara “Begawe Jelo Nyesek”, Desa Sukarara kembali menegaskan posisinya sebagai sentra tenun tradisional yang tidak hanya menghasilkan kain berkualitas tinggi, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Sasak. Diharapkan festival ini dapat terus menjadi agenda budaya tahunan yang memperkuat citra Kabupaten Lombok Tengah sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Nusa Tenggara Barat, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan tradisi menenun sebagai warisan yang tak ternilai.