Dari Merariq hingga Nyongkolan, Sebuah Perjalanan Menuju Ikatan Seumur Hidup
Di Lombok Tengah, sebuah pernikahan bukan sekadar pertemuan dua insan yang saling mencintai. Ia adalah peristiwa budaya yang melibatkan keluarga besar, tetangga, tokoh adat, hingga seluruh masyarakat desa. Selama beberapa hari, suasana kampung berubah menjadi lebih semarak. Dapur-dapur mengepul sejak pagi, warga bergotong royong mendirikan tenda, para ibu menyiapkan hidangan, sementara suara gamelan dan musik tradisional mulai terdengar dari kejauhan.
Inilah begawe, semangat kebersamaan yang menjadi napas setiap pesta pernikahan masyarakat Sasak.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok Tengah, menyaksikan prosesi pernikahan adat merupakan pengalaman budaya yang begitu berkesan. Setiap tahapan memiliki filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi, memperlihatkan bagaimana masyarakat Sasak memandang cinta, keluarga, kehormatan, dan kebersamaan.
Merariq, Awal Sebuah Perjalanan
Salah satu tradisi yang paling dikenal dalam budaya Sasak adalah merariq, yang sering diterjemahkan sebagai “kawin lari”. Namun, istilah ini kerap disalahpahami.
Merariq bukanlah tindakan membawa pergi seseorang tanpa persetujuan. Dalam praktik adat Sasak masa kini, prosesi ini dilakukan atas kesepakatan kedua calon mempelai sebagai simbol keberanian, kesungguhan, dan komitmen untuk membangun rumah tangga.
Setelah kedua calon mempelai bertemu dan sepakat menikah, pihak laki-laki membawa mempelai perempuan ke rumah keluarga atau kerabat untuk sementara waktu. Selanjutnya, keluarga kedua belah pihak akan melakukan komunikasi dan musyawarah sesuai aturan adat yang berlaku.
Tradisi ini mencerminkan bahwa pernikahan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga penyatuan dua keluarga besar.
Selabar, Mengabarkan Kabar Bahagia
Setelah proses merariq, keluarga laki-laki mengirim utusan kepada keluarga perempuan dalam prosesi yang dikenal sebagai selabar.
Tujuannya sederhana tetapi penting, yaitu memberitahukan secara resmi bahwa putri mereka telah berada di rumah keluarga calon mempelai laki-laki dan akan dipersunting.
Prosesi ini menjadi awal komunikasi yang baik antara kedua keluarga. Nilai utama yang dijunjung adalah saling menghormati, menjaga hubungan kekeluargaan, dan menyelesaikan segala sesuatu melalui musyawarah.
Sorong Serah Aji Krama, Lambang Tanggung Jawab
Tahapan berikutnya adalah Sorong Serah Aji Krama, salah satu prosesi adat yang paling sakral dalam pernikahan Sasak.
Melalui prosesi ini, keluarga laki-laki menyerahkan simbol tanggung jawab kepada keluarga perempuan. Bukan sekadar pemberian materi, tetapi juga pernyataan bahwa mempelai laki-laki siap memikul kewajiban sebagai kepala keluarga dan menjaga kehormatan istrinya.
Prosesi berlangsung dengan tata cara adat yang penuh penghormatan. Para tokoh adat memimpin jalannya acara menggunakan bahasa Sasak yang halus dan penuh makna. Bagi masyarakat Sasak, Sorong Serah bukan sekadar ritual, melainkan penegasan bahwa pernikahan dibangun di atas rasa tanggung jawab dan saling menghormati.

Nyongkolan, Perayaan yang Paling Meriah
Jika ada satu prosesi yang paling sering menarik perhatian wisatawan, jawabannya adalah Nyongkolan.
Inilah momen ketika kedua mempelai diarak menuju rumah keluarga perempuan. Mereka mengenakan busana adat Sasak yang indah dan elegan, berjalan bersama keluarga besar yang mengenakan pakaian tradisional.
Iring-iringan tersebut diiringi tabuhan Gendang Beleq, musik tradisional Sasak yang dimainkan dengan penuh semangat. Suara gendang, gong, dan alat musik lainnya menggema sepanjang jalan, menghadirkan suasana yang meriah sekaligus khidmat.
Warga desa biasanya berdiri di sepanjang jalan untuk menyaksikan prosesi ini. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja berhenti sejenak hanya untuk mengabadikan momen penuh warna tersebut.
Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan pengantin. Ia menjadi simbol kebahagiaan yang dibagikan kepada seluruh masyarakat.

Begawe, Ketika Satu Desa Menjadi Satu Keluarga
Di balik kemeriahan pesta pernikahan, ada nilai yang paling mengesankan dalam budaya Sasak, yaitu semangat begawe atau gotong royong.
Jauh sebelum hari pernikahan tiba, warga desa sudah mulai membantu keluarga yang memiliki hajatan. Ada yang memasak, mendirikan tenda, menyiapkan perlengkapan, menerima tamu, hingga membersihkan lokasi setelah acara selesai.
Semua dilakukan dengan sukarela.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa sebuah pesta bukan hanya milik satu keluarga, tetapi menjadi kebahagiaan bersama. Semangat saling membantu inilah yang membuat ikatan sosial masyarakat Sasak tetap kuat hingga kini.
Warisan Budaya yang Tetap Terjaga
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Lombok Tengah tetap menjaga tradisi pernikahan adat sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Memang, beberapa tata cara telah menyesuaikan perkembangan kehidupan modern, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan.
Rasa hormat kepada orang tua, musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, tanggung jawab terhadap keluarga, dan semangat kebersamaan masih menjadi fondasi utama dalam setiap prosesi pernikahan.
Tradisi ini juga menjadi daya tarik budaya yang memperkaya pengalaman wisata di Lombok Tengah. Wisatawan tidak hanya menikmati panorama pantai atau perbukitan, tetapi juga dapat menyaksikan langsung bagaimana sebuah masyarakat menjaga warisan leluhurnya dengan penuh kebanggaan.
Lebih dari Sekadar Sebuah Pernikahan
Bagi masyarakat Sasak, pernikahan adalah awal dari perjalanan hidup yang baru, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak pernah dijalani sendirian. Ada keluarga yang mendukung, tetangga yang membantu, adat yang membimbing, dan masyarakat yang ikut merayakan.
Itulah sebabnya, setiap prosesi pernikahan di Lombok Tengah selalu terasa hangat dan penuh makna. Dari merariq yang melambangkan kesungguhan, selabar yang mengedepankan komunikasi, Sorong Serah Aji Krama yang menegaskan tanggung jawab, hingga Nyongkolan yang menghadirkan kegembiraan bersama, semuanya menunjukkan bahwa cinta dalam budaya Sasak tidak hanya menyatukan dua hati, tetapi juga mempererat hubungan antarkeluarga dan masyarakat.
Di tengah modernitas yang terus berkembang, tradisi ini tetap hidup sebagai pengingat bahwa kebahagiaan akan terasa lebih indah ketika dirayakan bersama. Itulah salah satu wajah Lombok Tengah yang membuat setiap perjalanan bukan sekadar tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang nilai-nilai kehidupan yang dapat dipelajari.